HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN
SIKAP SEKSUAL PRANIKAH
REMAJA
KARYA TULIS ILMIAH
TAHUN 2011
Oleh :
ABD BASID
NISN:9973729770
KELAS
IX MATA PELAJARAN MATEMATIKA
MTsN SUMBER BUNGUR
PAMEKASAN
JL. RAYA PONTREN
SUMBER BUNGUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012
HALAMAN
JUDUL............................................................................................
i
HALAMAN
PERSETUJUAN
............................................................................ ii
HALAMAN
PENGESAHAN..............................................................................
iii
HALAMAN
PERSEMBAHAN
.......................................................................... iv
HALAMAN
MOTTO..........................................................................................
v
ABSTRAK...........................................................................................................
vi
KATA
PENGANTAR
.........................................................................................
vii
DAFTAR
ISI........................................................................................................
ix
DAFTAR
TABEL................................................................................................
xii
DAFTAR
GAMBAR...........................................................................................
xiii
DAFTAR
LAMPIRAN........................................................................................
xiv
BAB
I PENDAHULUAN...............................................................................
1
A
Latar Belakang
...............................................................................
1
B
Perumusan Masalah
....................................................................... 4
C
Tujuan Penelitian ...........................................................................
4
D
Manfaat
.........................................................................................
4
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................
6
A
Tinjauan teori
.................................................................................
6
1.
Pengetahuan Seksual Pranikah Remaja.................................... 6
a.
Pengetahuan .......................................................................
6
b.
Seksual Pranikah Remaja ................................................... 8
3
c.
Pengetahuan seksual Pranikah Remaja ............................... 11
2.
Sikap Seksual Pranikah Remaja ...............................................
12
B
Hubungan Antara pengetahuan dengan Sikap seksual
Pranikah
Remaja............................................................................
17
C
Kerangka
Konsep...........................................................................
18
D
Hipotesis.........................................................................................
18
BAB
III
METODOLOGI...................................................................................
19
A
Desain Penelitian............................................................................
19
B
Tempat dan Waktu Penelitian
........................................................ 19
C
Populasi Penelitian
........................................................................ 19
D
Sampel dan Teknik Sampling
........................................................ 20
E
Estimasi besar
Sampel.................................................................... 20
F
Kriteria Restriksi ...........................................................................
21
G
Definisi Operasional
variabel......................................................... 21
H
Instrumentasi
..................................................................................
23
I
Rencana Pengolahan Data dan Analisa Data ................................ 28
BAB
IV HASIL PENELITIAN
A.
Distribusi Jenis Kelamin Responden di SMAN 3 Surakarta ......... 30
B.
Distribusi Umur Responden di SMAN 3 surakarta........................ 31
C.
Distribusi berdasarkan sumber informasi tentang pengetahuan seksual
pranikah..........................................................................................
31
D.
Distribusi Pengetahuan Seksual Pranikah Remaja......................... 32
E.
Distribusi Sikap Seksual Pranikah Remaja ....................................
33
4
F.
Tabel Kontingensi Hubungan Antara Pengetahuan dengan Sikap
Seksual
Pranikah Remaja...............................................................
34
BAB
V PEMBAHASAN..............................................................................
... 35
BAB
VI KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................
... 39
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
5
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel
3.1 Kisi-kisi Kuesioner Pengetahuan Seksual Pranikah ...................... 24
Tabel
3.2 Kisi-kisi Kuesioner Sikap Seksual Pranikah
.................................. 25
Tabel
4.1 Distribusi Jenis Kelamin Responden di SMAN 3 Surakarta......... . 30
Tabel
4.2 Distribusi Umur Responden di SMAN 3 Surakarta........................ 31
Tabel
4.3 Distribusi berdasarkan sumber informasi tentang pengetahuan
seksual
pranikah
..............................................................................
32
Tabel
4.4 Distribusi Pengetahuan Seksual Pranikah Remaja.......................... 33
Tabel
4.5 Distribusi Sikap Seksual Pranikah Remaja
..................................... 33
Tabel4.6
Tabel Kontingensi Hubungan Antara Pengetahuan dengan
Sikap
Seksual Pranikah Remaja ......................................................
34
6
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar
2.1 Gambar kerangka
konseptual....................................................... 18
DAFTAR LAMPIRAN
7
Lampiran
1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Lampiran
2 Gambaran lokasi penelitian
Lampiran
3 Kuesioner tentang Sikap seksual pranikah remaja
Lampiran
4 Kuesioner pengetahuan seksual pranikah remaja
Lampiran
5 Kunci jawaban kuesioner sikap seksual pranikah remaja
Lampiran
6 Kunci jawaban pengetahuan seksual pranikah remaja
Lampiran
7 Surat permohonan ijin uji validitas penelitian dan pengambilan data
kepada
Kepala SMA N 1 Surakarta
Lampiran
8 Surat persetujuan uji validitas penelitian dan pengambilan data dari
Kepala
SMA N 1 Surakarta
Lampiran
9 Surat permohonan ijin penelitian dan pengambilan data kepada Kepala
SMA
N 3 Surakarta
Lampiran
10 Surat Persetujuan peneltian dari Kepala SMA N 3 Surakarta
Lampiran
11 Data uji validitas dan reliabilitas pengetahuan seksual pranikah remaja
Lampiran
12 Hasil uji validitas dan reliabilitas pengetahuan seksual pranikah remaja
Lampiran
13 Data uji validitas dan reliabilitas sikap seksual pranikah remaja
Lampiran
14 Hasil uji validitas dan reliabilitas sikap seksual pranikah remaja
Lampiran
15 Rekap data hasil uji coba validitas kuesioner pengetahuan dan sikap
seksual
pranikah remaja
Lampiran
16 Data penelitian pengetahuan dan sikap seksual pranikah remaja
Lampiran
17 Hasil perhitungan Chi Square
Lampiran
18 Lembar Konsultasi
8
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja
dalam memasuki masa peralihan tanpa pengetahuan yang memadai
tentang
seksual pranikah. Hal ini disebabkan orang tua merasa tabu
membicarakan
masalah seksual dengan anaknya dan hubungan orang tua anak
menjadi
jauh sehingga anak berpaling ke sumber-sumber lain yang tidak akurat
khususnya
teman. (Sarwono, 2006).
Remaja
banyak yang tidak sadar dari pengalaman yang tampaknya
menyenangkan
justru dapat menjerumuskan, salah satu problema dari kaum
remaja
apabila kurangnya pengetahuan seksual pranikah adalah kehamilan yang
tidak
diinginkan, aborsi tidak aman dan juga penyakit kelamin (Chyntia, 2003).
Pengetahuan
tentang seksual pranikah dapat mempengaruhi sikap individu tersebut
terhadap
seksual pranikah (Adikusuma, 2005)
Sikap
seksual pranikah remaja dipengaruhi oleh banyak hal, selain dari faktor
pengetahuan
juga dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, orang lain yang dianggap
penting,
media massa, pengalaman pribadi, lembaga pendidikan, lembaga agama
dan
emosi dari dalam individu. Sikap seksual pranikah remaja bisa berwujud
positif
ataupun negatif, sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendukung
seksual
pranikah sedangkan sikap negatif kecenderungan tindakan adalah
menghindari
seksual pranikah remaja (Azwar, 2009)
Remaja
mulai mempersiapkan diri menuju kehidupan dewasa, termasuk dalam
aspek
seksualnya. Dengan demikian memang dibutuhkan sikap yang bijaksana
9
dari
para orang tua, pendidik dan masyarakat pada umumnya serta tentunya dari
remaja
itu sendiri, agar mereka dapat melewati masa transisi itu dengan selamat
(Sarwono,
2006).
Hasil
penelitian yang dilakukan Suryoputro (2006) dengan judul ”Faktorfaktor
yang
mempengaruhi seksual remaja di Jawa Tengah: implikasinya terhadap
kebijakan
dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi”, pada umumnya terdapat
sikap
negatif terhadap hubungan seksual pranikah. Laporan dari jurnal
kependudukan
dan pembangunan dalam tahun 2005 menunjukkan tentang
penelitian
terhadap 164 orang terdiri atas 139 subjek laki – laki dan 29 subjek
wanita
pada siswa – siswi kelas III SMA di kota Surakarta dengan hasil 43,17 %
subjek
laki – laki kadang – kadang melakukan onani, 36% subjek wanita tidak
pernah
melakukan masturbasi, 41,73% subjek laki – laki melakukan hubungan
seks
pada usia 15 – 17 tahun dan 60% subjek wanita pada usia 15 tahun, 42,45%
laki
– laki melakukan hubungan seks pada usia 18- 19 tahun dan 28% subjek
wanita.
Terdapat 2,88% subjek laki – laki dan 11,5% subjek wanita melakukan
hubungan
seks pada usia 12-14 tahun. Sebagian besar alasan subjek laki – laki
adalah
bukti rasa cinta sebanyak 47,73%. Sedangkan 44% subjek wanita
melakukanan
hubungan seks pertama kali didasari keinginan untuk mencoba
(Kasturi,
2005).
Penelitian
tentang seksual pranikah pernah dilakukan oleh Suhartin (2007)
dengan
judul ”Perbedaan sikap tentang Perilaku Seks Pranikah antara Remaja
Laki-laki
dan Perempuan di SMAN 1 Tenggarang Bondowoso”. Perbedaannya
dengan
penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah terdapat pada variabel
10
yang
diteliti, tempat dan waktu. Pada penelitian ini, variabel bebasnya adalah
pengetahuan,
sedangkan penelitian sebelumnya adalah jenis kelamin. Pada
penelitian
sebelumnya meneliti tentang perilaku seksual pranikah remaja,
sedangkan
pada penelitian ini meneliti tentang sikap seksual pranikah remaja.
Tempat
yang akan penulis lakukan penelitian adalah di SMAN 3 Surakarta dengan
pertimbangan
bahwa SMAN 3 Surakarta merupakan salah satu SMAN favorit di
Surakarta
dimana kualitas input dari aspek kognitif sangat bagus. Kurikulum
pendidikan
seks tidak berdiri sendiri, tetapi diberikan melalui pelajaran biologi,
beberapa
materi yang diberikan yaitu reproduksi sehat, proses kehamilan, KB dan
organ-organ
reproduksi.
Berdasarkan
latar belakang diatas maka peneliti merasa tertarik untuk
mengambil
judul ” Hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah
remaja
”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah ”Adakah
hubungan
antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja ?”
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk
mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah
remaja
.
11
2. Tujuan khusus
a.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan seksual pranikah remaja.
b.
Untuk mengetahui sikap seksual pranikah remaja .
D. Manfaat
1. Manfaat teoretis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang hubungan
antara
pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja.
2.
Manfaat Aplikatif
a.
Institusi sekolah
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi institusi
sekolah
untuk memberikan pengetahuan seksual pranikah remaja dalam
kaitannya
dengan pembentukan sikap seksual pranikah remaja.
b.
Profesi bidan
Sebagai
sumbangan aplikatif bagi tenaga kesehatan terutama bidan agar
lebih
meningkatkan perhatian dalam memberikan informasi mengenai
pengetahuan
seksual pranikah remaja dalam kaitannya dengan
pembentukan
sikap seksual pranikah remaja.
c.
Remaja dan masyarakat
Manfaat
bagi remaja dan masyarakat adalah untuk membuka wawasan
tentang
pengetahuan seksual pranikah sehingga terbentuk sikap seksual
pranikah
yang memadai.
12
d.
Penelitian selanjutnya
Hasil
penelitian dapat dimanfaatkan sebagai referensi penelitian
selanjutnya
yang berkaitan dengan masalah pengetahuan dan sikap seksual
pranikah
remaja.
6
1
19
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1.
Pengetahuan Seksual Pra Nikah Remaja
a.
Pengetahuan
Pengetahuan
merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui
pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman,
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui
mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007)
Menurut
Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain
kognitif
mempunyai 6 tingkatan yaitu:
1)
Tahu (know)
Tahu
diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalah
mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifk dari seluruh bahan yang
dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima
2)
Memahami ( comprehension)
Memahami
diartikan sebagai suatu kemampuan untukmenjelaskan secara
benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut
secara benar.
6
7
3)
Aplikasi ( application)
Aplikasi
diarttikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4)
Analisis ( analysis)
Analisis
adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek
ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur
organisasi,
dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5)
Sintesis ( syntesis)
Sintesis
menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.
6)
Evaluasi ( evaluation)
Evaluasi
ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau
penilaian terhadap sutu materi atau objek.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo
(2007)
yaitu:
1)
Sosial ekonomi
Lingkungan
sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang,
sedang
ekonomi dikaitkan dengan pendidikan, ekonomi baik tingkat
pendidikan
akan tinggin sehingga tingkat pengetahuan akan tinggi juga.
8
2)
Kultur (budaya, agama)
Budaya
sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang,
karena
informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan
budaya
yang ada dan agama yang dianut.
3)
Pendidikan
Semakin
tinggi pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru
dan
mudah menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut.
4)
Pengalaman
Berkaitan
dengan umur dan pendidikan individu, bahwa pendidikan yang
tinggi
maka pengalaman akan luas, sedangkan semakin tua umur
seseorang
maka pengalaman akan semakin banyak.
b.
Seksual Pra nikah Remaja
Hubungan
seksual adalah suatu hal yang sakral dan bertujuan untuk
mengembangkan
keturunan. Kenikmatan yang diperoleh dari hubungan
tersebut
merupakan karunia Tuhan kepada manusia dalam melaksanakan
fungsinya
meneruskan keturunan. Oleh karena itu hubungan seksual harus
dilakukan
dalam ikatan yang sah, dimana pasangan terikat komitmen dan
tanggung
jawab moral (Jernih, 2010).
Seksual
pranikah remaja adalah hubungan seksual yang dilakukan remaja
sebelum
menikah (BKKBN, 2007).
Definisi
yang dirumuskan oleh WHO, remaja adalah suatu masa ketika
individu
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda
seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual,
9
individu
mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari
kanak-
kanak menjadi dewasa, terjadi peralihan dari ketergantungan sosial
ekonomi
yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono,
2006).
Perkembangan seorang remaja menurut Smith dan Anderson dalam
Dhamayanti
(2009) terbagi menjadi tiga tipe yaitu remaja dini (10-13 tahun),
remaja
pertengahan (14-16 tahun), remaja akhir (17-21 tahun).
Aspek
seksual pada remaja mempunyai kekhususan antara lain
pengalaman
berfantasi dan mimpi basah. Fantasi ini tidak hanya dialami oleh
para
remaja, tetapi ternyata masih sering dialami sampai pada saat dewasa.
Remaja
menginginkan kebebasan yang lebih banyak dan kadang-kadang
ingin
lebih leluasa melakukan aktifitas seksual, walaupun tidak jarang
menimbulkan
konflik dalam dirinya sehingga sebagian merasa berdosa dan
cemas
(Soetjiningsih, 2007).
Faktor-faktor
yang mempengaruhi hubungan seksual yang pertama
dialami
oleh remaja menurut Soetjiningsih (2007) yaitu:
1)
waktu/ saat mengalami pubertas
2)
kontol sosial kurang tepat (terlalu ketat atau terlalu longgar), kurangnya
kontrol
dari orang tua, remaja tidak tahu batas-batas mana yang boleh
dan
mana yang tidak boleh,
3)
frekuensi pertemuan dengan pacarnya, hubungan antar mereka semakin
romantis,
adanya keinginan untuk menunjukkkan cinta pada pacarnya,
penerimaan
aktifitas seksual pacarnya.
10
4)
status ekonomi, kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk
mendidik
anak-anak untuk memasuki masa remaja dengan baik,
5)
korban pelecehan seksual,
6)
tekanan dari teman sebaya, penggunaan obat-obat terlarang dan alcohol,
merasa
sudah saatnya untuk melakukan aktivitas seksual sebab sudah
merasa
matang secara fisik,
7)
sekedar menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya,
8)
terjadi peningkatan rangsangan seksual akibat peningkatan kadar
hormon
reproduksi atau seksual. Menurut Smith dan Anderson dalam
Dhamayanti
(2009) munculnya dorongan seksual terjadi pada remaja
pertengahan.
Faktor- faktor yang meningkatkan dorongan seksual pada
remaja
menurut BKKBN (2007) yaitu menonton film porno, melihat
gambar
porno, mendengar cerita porno, berduaan di tempat sepi,
berkhayal
tentang seksual, menggunakan zat perangsang atau napza.
Cara
mengendalikannya yaitu dengan taat beribadah, remaja memahami
tugas
utamanya misalnya belajar dan bekerja, mengisi waktu sesuai
dengan
bakat, minat dan kemampuan misalnya olahraga, kesenian dan
berorganisasi.
Akibat
terjadinya hubungan seksual pranikah bagi remaja menurut Chyntia
(2003)
yaitu:
1)
Kehamilan
Hubungan
seks satu kali saja bisa mengakibatkan kehamilan bila
dilakukan
pada masa subur/ masa ovulasi.
11
2)
Aborsi tidak aman
Menggugurkan
kandungan dengan cara aborsi tidak aman dapat
mengakibatkan
kematian.
3)
Penyakit kelamin
Definisi
penyakit kelamin menurut Sa’abah (2001) yaitu penyakit yang
diakibatkan
oleh infeksi diikuti peradangan dan ditularkan melalui
hubungan
seksual. Hubungan seks satu kali saja dapat menularkan
penyakit
bila dilakukan dengan orang yang tertular salah satu penyakit
kelamin.
c.
Pengetahuan Seksual Pranikah Remaja
Pengetahuan
seksual pranikah remaja penting diberikan kepada
remaja,
baik melalui pendidikan formal maupun informal. Upaya ini perlu
dilakukan
untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat selama
ini
banyak remaja yang memperoleh “pengetahuan” seksnya dari teman
sebaya,
membaca buku porno, menonton film porno, dsb. Oleh karena itu,
perlu
diupayakan adanya pemberian informasi mengenai pengetahuan
seksual
pranikah dikalangan remaja (Chyntia, 2003).
Pengetahuan
seksual pranikah remaja terdiri dari dari pemahaman
tentang
seksualitas yang dilakukan sebelum menikah yang terdiri dari
pengetahuan
tentang fungsi hubungan seksual, akibat seksual pranikah, dan
faktor
yang mendorong seksual pranikah (Sarwono 2006). Masyarakat masih
sangat
mempercayai pada mitos-mitos seksual yang merupakan salah satu
pemahaman
yang salah tentang seksual. Kurangnya pemahaman ini
12
disebabkan
oleh berbagai faktor antara lain : adat istiadat, budaya, agama,
dan
kurangnya informasi dari sumber yang benar (Soetjiningsih, 2007).
Ilustrasi
dari adanya informasi yang tidak benar di kalangan remaja
terdiri
dari pengetahuan tentang fungsi hubungan seksual (mitos yang
berkembang
adalah hubungan seksual dapat mengurangi frustasi,
menyebabkan
awet muda, menambah semangat belajar), akibat hubungan
seksual
(mitos yang berkembang yaitu tidak akan hamil kalau senggama
terputus,
hanya menempelkan alat kelamin, senggama 1-2 kali saja,
berenang
dan berciuman bisa menyebabkan kehamilan), dan yang
mendorong
hubungan seksual pranikah (mitos yang berkembang adalah
ganti-
ganti pasangan seksual tidak menambah resiko PMS, pacaran perlu
variasi
antara lain bercumbu, mau berhubungan seksual berarti serius dengan
pacar,
sekali berhubungan seksual tidak akan tertular PMS, dan sebagainya)
(Sarwono,
2006)
2.
Sikap Seksual pranikah remaja
a.
Sikap
Sikap
merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap
suatu stimulus atau obyek (Notoatmojo, 2007).
Struktur
sikap terdiri atas tiga komponen menurut Azwar (2009) yaitu:
1)
Komponen kognitif ( cognitive)
Komponen
kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang
berlaku
atau apa yang benar bagi objek sikap.
13
2)
Komponen afektif ( affective)
Komponen
afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang
terhadap
suatu sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan
perasaan
yang dimiliki terhadap sesuatu.
3)
Komponen konatif ( conative)
Komponen
konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana
perilaku
atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang
berkaitan
dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh
asumsi
bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi
perilaku.
Konsistensi
antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan
sebagai
komponen afektif, dengan tendensi kecenderungan berperilaku
sebagai
komponen konatif seperti itulah yang menjadi landasan dalam usaha
penyimpulan
sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap.
Faktor
- faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar
(2009)
adalah:
1)
Pengalaman pribadi
Sesuatu
yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi
penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan
akan
menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat
mempunyai
tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai
pengalaman
yang berkaitan dengan obyek psikologis.
14
2)
Kebudayaan
Kebudayaan
dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh
besar
terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup dalam
budaya
yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan heteroseksual,
sangat
mungkin kita akan mempunyai sikap yang mendukung terhadap
masalah
kebebasan pergaulan heteroseksual. Apabila kita hidup dalam
budaya
sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok,
maka
sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap
kehidupan
individualisme yang mengutamakan kepentingan perorangan.
3)
Orang lain yang dianggap penting
Orang
lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen
sosial
yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap
penting,
sesorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak
dan
tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita
kecewakan
atau seseorang yang berati khusus bagi kita, akan banyak
mempengaruhi
pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Diantara orang
yang
biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang
yang
satatus sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru,
teman
kerja, istri tau suami dan lain-lain.
4)
Media massa
Media
massa sebagai sarana komunikasi. Berbagai bentuk media massa
seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah dll, mempunyai pengaruh
besar
dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Penyampaian
15
informasi
sebagai tugas pokoknya. Media massa membawa pula pesanpesan
yang
berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang.
Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan
kognitif
baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
5)
Institusi/ lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga
pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai
pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya
meletakkan
dasar pengertian dan konsep moral dalam diri ndividu.
Pemahaman
akan baik-dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang
boleh
dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari
pusat
keagamaan serta ajaran-ajarannya.
6)
Faktor emosi dalam diri individu
Bentuk
sikap tidak semuanya ditentukan oleh situasi lingkungan dan
pengalaman
pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap
merupakan
pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai
semacam
penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme
pertahanan
ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara
dan
segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula
merupakan
sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.
Selain
dari faktor-faktor diatas yang mempengaruhi pembentukan sikap,
menurut
Walgito(2003) adalah faktor pengetahuan. Pengetahuan merupakan
hasil
dari tahu, dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap
suatu objek tertentu, individu mempunyai dorongan untuk
16
mengerti,
dengan pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan. Sikap
seseorang
terhadap suatu objek menunjukkan pengetahuan tersebut
mengenai
objek yang bersangkutan.
b.
Sikap Seksual Pranikah Remaja
Sikap
seksual adalah respon seksual yang diberikan oleh seseorang
setelah
melihat, mendengar atau membaca informasi serta pemberitaan,
gambar-gambar
yang berbau porno dalam wujud suatu orientasi atau
kecenderungan
dalam bertindak. Sikap yang dimaksud adalah sikap remaja
terhadap
perilaku seksual pranikah (Bungin, 2001). Pengukuran sikap dapat
dilakukan
secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dapat
dinyatakan
bagaimana pendapat dan pernyataan responden terhadap suatu
obyek.
Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan pernyataan
hipotesis
kemudian dinyatakan pendapat responden melalui kuesioner
(Notoadmojo,
2003). Kuesioner mengacu pada skala likert dengan bentuk
jawaban
pertanyaan atau pernyataan terdiri dari jawaban sangat setuju,
setuju,
tidak setuju, sangat tidak setuju (Hidayat, 2007).
Sikap
dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Azwar, 2009):
1)
Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,
mengharapkan
obyek tertentu.
2)
Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,
membenci,
tidak menyukai obyek tertentu.
17
B. Hubungan antara pengetahuan dengan
sikap seksual pranikah remaja
Pengetahuan
seksual pranikah remaja merupakan pengetahuan yang dapat
menolong
muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada
dorongan
seksual. Dalam hal ini pengetahuan seksual pranikah idealnya
diberikan
pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu
keadaan
anak adalah orang tuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak
semua
orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan
permasalahan
seksual. Selain itu, tingkat sosial ekonomi maupun tingkat
pendidikan
yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau
dan
mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak
mampu
dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka
sebenarnya
peran dunia pendidikan sangatlah besar (Chyntia, 2003).
Pengetahuan
seksual pranikah dapat mempengaruhi sikap individu
tersebut
terhadap seksual pranikah (Adikusuma, 2005). Remaja yang mendapat
informasi
yang benar tentang seksual pranikah maka mereka akan cenderung
mempunyai
sikap negatif. Sebaliknya remaja yang kurang pengetahuannya
tentang
seksual pranikah cenderung mempunyai sikap positif/ sikap menerima
adanya
perilaku seksual pranikah sebagai kenyataan sosiologis (Bungin, 2001).
18
C. Kerangka konseptual
Variabe
bebas Variabel Terikat
Gambar
2.1. Kerangka Konsep Penelitian Hubungan antar pengetahuan dengan
sikap
seksual pranikah remaja
Keterangan :
:
diteliti
:
tidak diteliti
D. Hipotesis Penelitian
Ada
hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja.
Sikap
seksual
pranikah
remaja
Pengetahuan
seksual
pranikah
remaja
Faktor
lain yang
mempengaruhi
pembentukan
sikap:
1.
Pengalaman pribadi
2.
Pengaruh orang lain
3.
Pengaruh kebudayaan
4.
Media massa
5.
Lembaga pendidikan
6.
Lembaga agama
7.
Faktor emosional
Faktor
yang
mempengaruhi
pengetahuan
1.
Sosial ekonomi
2.
Kultur
3.
Pendidikan
4. Pengalaman
19