bintnh

Sabtu, 11 Februari 2012


BAB IV
HASIL PENELITIAN
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2010 di SMAN 3 Surakarta,
dengan jumlah responden 184 siswa siswi kelas X yang diambil secara acak melalui
undian dari jumlah populasi 341 remaja kelas X. Pelaksanaan penelitian dengan
30
menggunakan metode kuesioner yang diberikan pada responden secara langsung.
Pengisian kuesioner dilakukan pada tempat dan waktu yang sama di SMAN 3 Surakarta.
Hasil penelitian sebagai berikut:
1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel dibawah
ini:
Tabel 4.1 Distribusi Jenis kelamin Responden
Karakteristik Responden Jumlah Persentase (%)
Perempuan 89 48, 37
Laki- laki 95 51,63
Total 184 100
Dari tabel diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
dapat dilihat bahwa Laki- laki lebih banyak dari perempuan
2. Distribusi Responden Berdasarkan Umur
Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.2 Distribusi Umur Responden
Umur Jumlah %
14 tahun
15 tahun
16 tahun
2
45
137
1,09
24,46
74,45
30
31
Total 184 100
Dari tabel diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
dapat dilihat bahwa responden dengan umur 14 tahun sebanyak 2 orang, umur 15
tahun sebanyak 45 orang dan responden dengan umur 16 tahun sebanyak 137 orang.
3. Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi tentang Seksual pranikah
Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi remaja tentang seksual
pranikah dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3 Distribusi Berdasarkan Sumber Informasi tentang pengetahuan seksual
pranikah
No Sumber informasi Frekuensi Persen (%)
1 Televisi 57 29,35
2 Radio 21 11,42
3 Surat kabar 46 25,00
4 Buku 32 17,39
5 VCD 25 13,59
32
6 Majalah 76 41,30
7 Teman 42 22,83
8 Orang tua 19 10,33
9 Guru 43 23,37
Berdasarkan Tabel 4.3 tersebut dapat diketahui bahwa remaja memperoleh
informasi tentang seksual pranikah paling dominan dari majalah yaitu sebanyak 76
responden (41,30%).
4. Distribusi Responden berdasarkan Pengetahuan Seksual Pranikah
Karakteristik responden berdasarkan pengetahuan seksual pranikah dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:
Tabel 4.4 Distribusi Pengetahuan Seksual Pranikah Remaja
No Pengetahuan Frekuensi Persen (%)
1 Baik 116 63
2 Cukup 37 20,1
3 Kurang 31 16,9
Total 184 100
33
Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut dapat diketahui bahwa pengetahuan remaja di
SMAN 3 Surakarta tentang seksual pranikah paling dominan adalah dengan
pengetahuan baik, yaitu sebanyak 116 responden (63%).
5. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Seksual Pranikah
Karakteristik responden berdasarkan sikap seksual pranikah dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 4.5 Distribusi Sikap Seksual Pranikah Remaja
No. Sikap Frekuensi Persen (%)
1 Negatif 115 62,5
2 Positif 69 37,5
Total 184 100
Dari tabel diatas dapat dilihat data mengenai sikap seksual pranikah pada remaja
SMAN 3 Surakarta menunjukkan bahwa 115 responden (62,5%) dengan sikap
negatif (kecenderungan untuk menghindari seksual pranikah) dan 69 responden
(37,5%) dengan sikap positif (kecenderungan untuk mendekati seksual pranikah).
6. Hubungan Antara Pengetahuan dengan Sikap seksual Pranikah Remaja
Tabel 4.6 tabel Kontingensi hubungan antara Pengetahuan dengan Sikap seksual
Pranikah Remaja
34
Pengetahuan * Sikap Crosstabulation
96 20 116
72.5 43.5 116.0
82.8% 17.2% 100.0%
83.5% 29.0% 63.0%
52.2% 10.9% 63.0%
12 25 37
23.1 13.9 37.0
32.4% 67.6% 100.0%
10.4% 36.2% 20.1%
6.5% 13.6% 20.1%
7 24 31
19.4 11.6 31.0
22.6% 77.4% 100.0%
6.1% 34.8% 16.8%
3.8% 13.0% 16.8%
115 69 184
115.0 69.0 184.0
62.5% 37.5% 100.0%
100.0% 100.0% 100.0%
62.5% 37.5% 100.0%
Count
Expected Count
% within Pengetahuan
% within Sikap
% of Total
Count
Expected Count
% within Pengetahuan
% within Sikap
% of Total
Count
Expected Count
% within Pengetahuan
% within Sikap
% of Total
Count
Expected Count
% within Pengetahuan
% within Sikap
% of Total
Baik
Cukup
Kurang
Pengetahuan
Total
Negatif Positif
Sikap
Total
Berdasarkan Tabel 4.6 tersebut dapat diketahui hubungan antara pengetahuan
dengan sikap seksual pranikah remaja sebagai berikut: responden dengan
pengetahuan baik, 96 responden dengan sikap negatif dan 20 responden dengan sikap
positif. Responden dengan pengetahuan cukup, 12 responden dengan sikap negatif
dan 25 responden dengan sikap positif. Responden dengan pengetahuan kurang, 7
responden dengan sikap negatif dan 24 responden dengan sikap positif.
Hasil uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95% atau α= 0, 05 didapatkan
nilai X2 = 55, 662 > X2 tabel (5,991), nilai p =0,000 ternyata X2 hitung lebih besar
dari X2 tabel yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan
dengan sikap seksual pranikah remaja.
35
BAB V
PEMBAHASAN
Siswa- siswi SMAN 3 Surakarta merupakan remaja yang sedang mengalami
perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak- kanak menjadi dewasa. Hal ini
36
dapat dilihat dari tahap perkembangan fisik ketika tanda- tanda seksual sekundernya
mencapai kematangan seksual dan terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi
yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono, 2006). Pada penelitian
ini jumlah responden adalah 184 remaja, responden paling banyak adalah laki-laki.
Dilihat dari umur sebagian besar responden berumur 16 tahun. Menurut Smith dan
Anderson dalam Dhamayanti (2009) munculnya dorongan seksual terjadi pada remaja
pertengahan yaitu usia 14 sampai 16 tahun. Ciri khas remaja pertengahan yaitu para
remaja sudah mengalami pematangan fisik secara penuh, anak laki- laki sudah
mengalami mimpi basah sedangkan anak perempuan sudah mengalami haid
(Soetjiningsih, 2007).
Pengetahuan seksual pranikah remaja didapat dari berbagai sumber yaitu media
elektronik, media cetak, teman, guru dan orangtua. Hasil penelitian ini, remaja
memperoleh informasi tentang seksual pranikah paling dominan dari majalah. Sesuai
dengan penelitian Oktarina (2009), orang yang memiliki sumber informasi yang lebih
banyak akan memiliki pengetahuan yang lebih luas pula. Salah satu sumber informasi
yang berperan penting bagi pengetahuan adalah media massa. Pengetahuan masyarakat
khususnya tentang kesehatan bisa didapat dari beberapa sumber antara lain media cetak,
tulis, elektronik, pendidikan sekolah dan penyuluhan.
Tingkat pengetahuan seksual pranikah remaja SMAN 3 Surakarta menunjukkan
bahwa responden berpengetahuan baik. Pengetahuan baik yang dimaksud disesuaikan
dengan teori Nursalam (2008), yaitu remaja mampu menjawab dengan benar (76-100%)
dari semua pertanyaan. Hasil penelitian terebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Darmasih (2009) dengan hasil pengetahuan baik mencapai 82,5%. Pada penelitian
36
37
ini remaja memiliki pengetahuan baik dikarenakan secara umum remaja kelas X sudah
mendapatkan pendidikan seksual di dalam pembelajaran sekolah meskipun kurikulum
pendidikan seksual tidak berdiri sendiri, tetapi diberikan melalui pelajaran biologi,
beberapa materi yang diberikan yaitu reproduksi sehat, proses kehamilan, KB, organorgan
reproduksi, sehingga mereka cukup menguasai tentang pengetahuan seksual
pranikah dan dampak yang diakibatkan oleh hubungan seksual pranikah tersebut.
Dampak yang diakibatkan dari seksual pranikah remaja yaitu adalah kehamilan yang
tidak diinginkan, aborsi tidak aman dan juga penyakit kelamin.
Sikap seksual pranikah pada remaja SMAN 3 Surakarta yaitu 62,5 % remaja
menunjukkan sikap negatif. Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi,
menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu. Sikap negatif pada penelitian ini
dipengaruhi oleh faktor antara lain pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang
dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan/ agama dan faktor
emosi dalam diri individu (Azwar 2009). Faktor lain yang mempengaruhi pembentukan
sikap, menurut Walgito(2003) adalah faktor pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2007),
sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai
suatu penghayatan terhadap objek.
Hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah menunjukkan arah
kecenderungan siswa dengan pengetahuan yang baik akan lebih ke arah negatif
(kecenderungan untuk menghindari seksual pranikah), sedangkan pada remaja dengan
pengetahuan yang kurang akan mempunyai kecenderungan ke arah yang positif
(kecenderungan untuk mendekati seksual pranikah). Hasil uji hipotesis dengan
menggunakan chi square dapat diambil kesimpulan Ho ditolak dan Ha diterima jadi ada
38
hubungan signifikan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja. Menurut
(Walgito, 2003) sikap sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan seseorangnya.
Sikap seseorang terhadap suatu objek menunjukkan pengetahuan orang tersebut terhadap
objek yang bersangkutan. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa remaja
yang mempunyai pengetahuan baik tentang seksual pranikah maka mereka akan
cenderung mempunyai sikap negatif. Sebaliknya remaja yang kurang pengetahuannya
tentang seksual pranikah cenderung mempunyai sikap positif/ sikap menerima adanya
perilaku seksual pranikah sebagai kenyataan sosiologis. Hal tersebut sesuai dengan
penelitian Zelnik dan Klim tahun 1982 (Sarwono, 2005) yang menyatakan bahwa remaja
cenderung melakukan lebih banyak hubungan seksual dikarenakan para remaja kurang
mendapat pengetahuan kesehatan reproduksi dan pendidikan tentang seksual.
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Darmasih (2009) dengan judul
“Faktor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah pada remaja di SMA Surakarta“
menunjukkan bahwa semakin tinggi pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi,
maka perilaku seks pranikah remaja semakin baik dan sebaliknya. Peneltian Suryoputro
(2009) dengan judul ”Faktor-faktor yang mempengaruhi seksual remaja di Jawa Tengah:
implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi”, hasilnya
masing-masing variabel pengetahuan, pemahaman tingkat agama, sumber informasi, dan
peran kelurga mempengaruhi perilaku seks pranikah remaja yaitu sebesar (91%).
Sedangkan sebesar (9%) dipengaruhi oleh faktor yang lain. Jika tidak ada dukungan
pengetahuan, pemahaman tingkat agama sumber informasi, dan peran keluarga maka
perilaku seks pranikah akan meningkat sebesar 10 kali lipat untuk melakukan seks
pranikah. Faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja adalah
39
teman sebaya, aspek-aspek kesehatan reproduksi, sikap terhadap layanan kesehatan
seksual dan reproduksi, perilaku, kerentanan yang dirasakan terhadap resiko, kesehatan
reproduksi, gaya hidup, pengendalian diri, aktifitas sosial, rasa percaya diri, usia, status
perkawinan, sosial-budaya, nilai dan norma sebagai pendukung sosial untuk perilaku
tertentu (Suryoputro, et al. 2006).
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan tujuan penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja
2. Pengetahuan seksual pranikah remaja kelas X SMAN 3 Surakarta yaitu remaja
mempunyai pengetahuan baik tentang seksual pranikah dengan jumlah 116
remaja (63%), mempunyai pengetahuan cukup dengan jumlah 37 remaja (20,1%)
dan mempunyai pengetahuan kurang 31 remaja (16,9%).
40
3. Sikap seksual pranikah remaja menunjukkan 62,5 % termasuk dalam kategori
sikap negatif (kecenderungan untuk menghindari seksual pranikah) dan 37,5 %
mempunyai sikap positif (kecenderungan untuk mendekati seksual pranikah)
B. Saran
1. Siswa
Diharapkan siswa mengupayakan peningkatkan pengetahuan tentang seksual
pranikah, pemahaman tingkat agama, dengan mencari informasi yang baik akurat
serta dapat memilih teman yang baik agar mempunyai sikap negatif atau
kecenderungan untuk menghindari seksual pranikah sehingga dampak yang
diakibatkan oleh seksual pranikah tidak terjadi.
2. Bagi Institusi Sekolah
Sebagai bahan pertimbangan bagi institusi pendidikan khususnya sekolah dalam
menentukan program-program yang dapat menyebarluaskan informasi tentang
pengetahuan seksual pranikah terutama bagi remaja yang mempunyai
pengetahuan kurang sehingga remaja terhindar dari dampak yang diakibatkan
seksual pranikah tersebut
3. Profesi Bidan
Diharapkan profesi bidan agar lebih meningkatkan perhatian dalam memberikan
pengetahuan seksual pranikah remaja dalam kaitannya dengan pembentukan sikap
seksual pranikah remaja.
4. Penelitian selanjutnya
40
41
Penulis berharap pada penelitian-penelitian selanjutnya untuk meneliti faktor yang
lebih kompleks pengaruhnya terhadap sikap, selain faktor pengetahuan yaitu
pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa,
lembaga pendidikan, lembaga agama dan faktor emosi dalam diri individu.
DAFTAR PUSTAKA
Adikusumo, I. 2005. ” Sikap Remaja Terhadap Seks Bebas di Kota Negara: Perspektif
kajian Budaya”. Ejournal. Unud. Ac. Idabstrake_journal_rasmen.pdf. Diakses
pada tanggal 21 Maret 2010.
Arikunto, S. 2006. ”Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek”.Jakarta : Rineka
Cipta.
Azwar, S. 2009. ”Sikap Manusia teori dan pengukurannya”. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar Offset.
BKKBN. 2007. ”Remaja dan SPN (Seks Pranikah)”. www.bkkbn.go.id
WebsDetailRubrik.phpMyID=518.pdf. Diakses pada tanggal 1 Maret 2010.
Bungin, B. 2001. ”Erotika Media Massa”. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Chyntia, A. 2003. ”Pendidikan Seks”.http://www.scribd.com/doc/14823326 /Pendidikan
seks. Diakses pada tanggal 21 Maret 2010.
Darmasih, R. 2009.” Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seks Pranikah pada Remaja
di Surakarta”. Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Skripsi. Surakarta
42
Dhamayanti, M. 2009. ” Overview adolescent health problems and services”.
www.idai.or.id/remaja/artikel.asp?q=200994155149. Diakses pada tanggal 21
maret 2010.
Hidayat, A. 2007. “Metode Penelitian kebidanan dan Teknik Analisis Data”. Jakarta :
Salemba Medika.
Jernih, F. 2010. “Mengapa Hubungan Seks PraNikah Harus
Dihindari”.http://fikirjernih.blogspot.com/2010/02/mengapa-hubungan-sekssebelum-
menikah.html. Diakses pada tanggal 1 Maret 2010.
Laksmiwati, I. A. 2000. ”Transformasi Sosial dan Perilaku Reproduksi
Remaja”.ejournal.unud.ac.idabstraktranspormasi%20sosial.pdf. Diakses pada
tanggal 2 februari 2010.
Mahfoedz, I. 2005. “Metodologi Penelitian bidang Kesehatan, keperawatan dan
Kebidanan”. Yogyakarta : Fitramaya.
Miron, A. 2006.”Bicara Soal Cinta, Pacaran, dan Seks kepada Remaja panduan guru
dan orang tua”.Minnesota U.S.A: Erlangga.
Notoatmodjo, S. 2002.”Metodologi Penelitian Kesehatan”. Jakarta:Rineka Cipta.
. 2007. ”Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku”. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Oktarina., Hanafi, F., Budisuari, M.A. 2009. Hubungan Antara Karakteristik Responden,
Keadaan Wilayah Dengan Pengetahuan, Sikap Terhadap HIV/AIDS Pada
Masyarakat Indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Volume 12 No. 4,
Oktober 2009.
Sa’abah, M.U. 2001. ”Perilaku seks Menyimpang dan Seksualitas Kontemporer Umat
Islam”. Yogyakarta: UII Press.
Sarwono, S.W. 2006. ”Psikologi Remaja”. Jakarta :PT Raja Grafindo Persada.
Soetjiningsih. 2007. ”Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya”. Jakarta: CV
Sagung Seto.
Suhartin. 2007. Perbedaan sikap tentang perilaku seks pranikah antara remaja laki-laki
dan perempuan di SMAN 1 Tenggarang, Bondowoso. DIV Kebidanan UNS. KTI.
Suryoputro, A. 2006.” Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di
jawa tengah: implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual
dan reproduksi”. journal.ui.ac.id...05_Faktorfaktor%20Yg%20
Mempengaruhi_Antono_revised.PDF.Makara Kesehatan. Volume 10 No 1, Juni
2006:29-40. Diakses tanggal 2 februari 2010.
43
Taufiqurrahman, M. A. 2008. ”Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu
Kesehatan”.Surakarta :LPP UNS
Walgito B, 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta : Andri Offset

0 komentar:

Posting Komentar